Minggu, 16 Agustus 2015

Agar Asma Tidak Mudah Kambuh

 Agar Asma Tidak Mudah Kambuh 

Bagi penderita asma kadang takut berolahraga atau melakukan latihan fisik karena khawatir mengalami serangan asma. Sebenarnya olahraga dan latihan fisik dapat menjadi 'obat' untuk mengontrol penyakit asma agar tidak mudah kambuh. Asma adalah suatu penyakit dengan gejala berupa rasa sesak dan/atau batuk berulang yang terjadi akibat reaksi alergi saluran napas terhadap zat tertentu. Sebagai contoh, seseorang memiliki sifat alergi terhadap tungau debu, apabila ia menghirup tungau debu, maka ia akan mengalami serangan asma.
 


Karena didasari oleh adanya suatu sifat alergi, maka pada penderita asma sebenarnya terjadi suatu peradangan saluran napas secara terus-menerus dan sewaktu-waktu serangan asma dapat terjadi bila individu tersebut 'bertemu' dengan zat pencetus reaksi alergi yang 'tepat'.


Asma dapat dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan tingkat keseringan dan keparahan gejala yang mucul yaitu terkontrol (controlled), terkontrol sebagian (partly controlled), dan tidak terkontrol (uncontrolled). Asma yang terkontrol memiliki frekuensi kejadian serangan yang lebih jarang dan fungsi paru yang normal. Sedangkan asma yang tidak terkontrol akan lebih mengganggu aktivitas sehari-hari karena memiliki frekuensi serangan yang lebih sering dan ditandai dengan gangguan fungsi paru.

Memang sampai saat ini penanganan utama asma adalah terapi dengan menggunakan obat. Namun, olahraga dan latihan fisik berperan sebagai penunjang penting untuk pengobatan asma. Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah. Salah satu studi meta-analisis (studi yang membuat analisa dengan mengkombinasikan beberapa penelitian) yang dilakukan Philipp A. Eichenberger, dkk. dari Zurich, Swiss, pada tahun 2013 menunjukan bahwa latihan fisik yang dilakukan secara rutin dapat mengurangi frekuensi serangan asma dan memperbaiki fungsi paru-paru, bahkan meningkatkan kemampuan kerja paru-paru seorang penderita asma.

Pada penderita asma yang tidak terbiasa berolahraga, dianjurkan untuk memulainya dengan melakukan jalan cepat (brisk walking) selama 10-20 menit per sesi sebanyak 3-5 kali per minggu. Nantinya diharapkan durasinya dapat ditingkatkan perlahan hingga mencapai 30-60 menit per sesi.

Pada penderita asma yang terkontrol dengan baik, dapat dianjurkan latihan fisik yang lebih berat seperti berlari, bersepeda, atau berenang. Olahraga permainan yang tidak terlalu berat seperti golf, voli, atau badminton (tanpa kompetisi) juga dianggap aman untuk dilakukan para penderita asma.


Di lain pihak, apabila seorang penderita asma melakukan olahraga atau latihan fisik tanpa pengarahan dan porsi yang sesuai, maka orang tersebut dapat mengalami serangan asma yang disebut Exercise-induced Asthma (EIA). Berita baiknya, EIA adalah suatu hal yang dapat dicegah.

Apabila Anda memiliki asma dan takut mengalami EIA saat berolahraga, salah satu cara untuk mengurangi risiko terjadinya EIA adalah dengan menggunakan short acting B2 agonist (misalnya Salbutamol, yang biasa dipakai penderita asma dan sering disebut inhaler) 10-15 menit sebelum berolahraga.
Selain penggunaan inhaler, rekomendasi lain yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya EIA adalah:

1. Mulailah olahraga atau latihan fisik Anda dengan pemanasan yang cukup,
misalnya dengan berjalan cepat atau berlari-lari kecil sebelum meningkatkan
intensitasnya secara bertahap.


2. Pada saat melakukan latihan fisik, pastikan temperatur dan kelembaban udara
sekitar dalam keadaan nyaman. Disarankan untuk berolahraga sekitar pukul 7-8
pagi, dan pilih lokasi dengan udara yang bersih, seperti taman kota yang jauh dari polusi kendaraan bermotor.


3. Biasakan menghirup udara melalui hidung dan hembuskan lewat mulut. Teknik
pernapasan ini akan mengurangi risiko terjadinya EIA.


4. Jangan berolahraga atau melakukan latihan fisik ketika Anda merasa kurang
sehat.


Apabila Anda adalah penderita asma yang ingin aktif berolahraga atau melakukan latihan fisik namun masih merasa khawatir akan terjadinya serangan asma, Anda dapat berkonsultasi kepada Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga agar dapat diberikan resep latihan fisik yang tepat dan pengawasan secara profesional.


0 komentar:

Poskan Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com